Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.(HR.Bukhori-Muslim)

Photobucket
sekarang
Share |
Kami
Pengunjung
Links
Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket
Buku Tamu
Agar Pernikahan Membawa Berkah
Sabtu, 20 Maret 2010
بسم الله الرحمن الرحيم
Di saat seseorang melaksanakan aqad pernikahan, maka ia akan mendapatkan banyak ucapan do’a dari para undangan dengan do’a keberkahan sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW; “Semoga Allah memberkahimu, dan menetapkan keberkahan atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” Do’a ini sarat dengan makna yang mendalam, bahwa pernikahan seharusnya akan mendatangkan banyak keberkahan bagi pelakunya. Namun kenyataannya, kita mendapati banyak fenomena yang menunjukkan tidak adanya keberkahan hidup berumah tangga setelah pernikahan, baik di kalangan masyarakat umum maupun di kalangan keluarga du’at (kader dakwah). Wujud ketidakberkahan dalam pernikahan itu bisa dilihat dari berbagai segi, baik yang bersifat materil ataupun non materil.

Munculnya berbagai konflik dalam keluarga tidak jarang berawal dari permasalahan ekonomi. Boleh jadi ekonomi keluarga yang selalu dirasakan kurang kemudian menyebabkan menurunnya semangat beramal/beribadah. Sebaliknya mungkin juga secara materi sesungguhnya sangat mencukupi, akan tetapi melimpahnya harta dan kemewahan tidak membawa kebahagiaan dalam pernikahannya.

Seringkali kita juga menemui kenyataan bahwa seseorang tidak pernah berkembang kapasitasnya walau pun sudah menikah. Padahal seharusnya orang yang sudah menikah kepribadiannya makin sempurna; dari sisi wawasan dan pemahaman makin luas dan mendalam, dari segi fisik makin sehat dan kuat, secara emosi makin matang dan dewasa, trampil dalam berusaha, bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan teratur dalam aktifitas kehidupannya sehingga dirasakan manfaat keberadaannya bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Realitas lain juga menunjukkan adanya ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga, sering muncul konflik suami isteri yang berujung dengan perceraian. Juga muncul anak-anak yang terlantar (broken home) tanpa arahan sehingga terperangkap dalam pergaulan bebas dan narkoba. Semua itu menunjukkan tidak adanya keberkahan dalam kehidupan berumah tangga.

Memperhatikan fenomena kegagalan dalam menempuh kehidupan rumah tangga sebagaimana tersebut di atas, sepatutnya kita melakukan introspeksi (muhasabah) terhadap diri kita, apakah kita masih konsisten (istiqomah) dalam memegang teguh rambu-rambu berikut agar tetap mendapatkan keberkahan dalam meniti hidup berumah tangga ?

1. Meluruskan niat/motivasi (Ishlahun Niyat)
Motivasi menikah bukanlah semata untuk memuaskan kebutuhan biologis/fisik. Menikah merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT sebagaimana diungkap dalam Alqur’an (QS. Ar Rum:21), sehingga bernilai sakral dan signifikan. Menikah juga merupakan perintah-Nya (QS. An-Nur:32) yang berarti suatu aktifitas yang bernilai ibadah dan merupakan Sunnah Rasul dalam kehidupan sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadits : ”Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah maka tidaklah ia termasuk golonganku” (HR.At-Thabrani dan Al-Baihaqi). Oleh karena nikah merupakan sunnah Rasul, maka selayaknya proses menuju pernikahan, tata cara (prosesi) pernikahan dan bahkan kehidupan pasca pernikahan harus mencontoh Rasul. Misalnya saat hendak menentukan pasangan hidup hendaknya lebih mengutamakan kriteria ad Dien (agama/akhlaq) sebelum hal-hal lainnya (kecantikan/ketampanan, keturunan, dan harta); dalam prosesi pernikahan (walimatul ‘urusy) hendaknya juga dihindari hal-hal yang berlebihan (mubadzir), tradisi yang menyimpang (khurafat) dan kondisi bercampur baur (ikhtilath). Kemudian dalam kehidupan berumah tangga pasca pernikahan hendaknya berupaya membiasakan diri dengan adab dan akhlaq seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.
Menikah merupakan upaya menjaga kehormatan dan kesucian diri, artinya seorang yang telah menikah semestinya lebih terjaga dari perangkap zina dan mampu mengendalikan syahwatnya. Allah SWT akan memberikan pertolongan kepada mereka yang mengambil langkah ini;
“Tiga golongan yang wajib Aku (Allah) menolongnya, salah satunya adalah orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR. Tarmidzi)
Menikah juga merupakan tangga kedua setelah pembentukan pribadi muslim (syahsiyah islamiyah) dalam tahapan amal dakwah, artinya menjadikan keluarga sebagai ladang beramal dalam rangka membentuk keluarga muslim teladan (usrah islami) yang diwarnai akhlak Islam dalam segala aktifitas dan interaksi seluruh anggota keluarga, sehingga mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi masyarakat sekitarnya. Dengan adanya keluarga-keluarga muslim pembawa rahmat diharapkan dapat terwujud komunitas dan lingkungan masyarakat yang sejahtera.

2. Sikap saling terbuka (Mushorohah)
Secara fisik suami isteri telah dihalalkan oleh Allah SWT untuk saling terbuka saat jima’ (bersenggama), padahal sebelum menikah hal itu adalah sesuatu yang diharamkan. Maka hakikatnya keterbukaan itu pun harus diwujudkan dalam interaksi kejiwaan (syu’ur), pemikiran (fikrah), dan sikap (mauqif) serta tingkah laku (suluk), sehingga masing-masing dapat secara utuh mengenal hakikat kepribadian suami/isteri-nya dan dapat memupuk sikap saling percaya (tsiqoh) di antara keduanya.
Hal itu dapat dicapai bila suami/isteri saling terbuka dalam segala hal menyangkut perasaan dan keinginan, ide dan pendapat, serta sifat dan kepribadian. Jangan sampai terjadi seorang suami/isteri memendam perasaan tidak enak kepada pasangannya karena prasangka buruk, atau karena kelemahan/kesalahan yang ada pada suami/isteri. Jika hal yang demikian terjadi hal yang demikian, hendaknya suami/isteri segera introspeksi (bermuhasabah) dan mengklarifikasi penyebab masalah atas dasar cinta dan kasih sayang, selanjutnya mencari solusi bersama untuk penyelesaiannya. Namun apabila perasaan tidak enak itu dibiarkan maka dapat menyebabkan interaksi suami/isteri menjadi tidak sehat dan potensial menjadi sumber konflik berkepanjangan.

3. Sikap toleran (Tasamuh)
Dua insan yang berbeda latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup bersatu dalam pernikahan, tentunya akan menimbulkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam cara berfikir, memandang suatu permasalahan, cara bersikap/bertindak, juga selera (makanan, pakaian, dsb). Potensi perbedaan tersebut apabila tidak disikapi dengan sikap toleran (tasamuh) dapat menjadi sumber konflik/perdebatan. Oleh karena itu masing-masing suami/isteri harus mengenali dan menyadari kelemahan dan kelebihan pasangannya, kemudian berusaha untuk memperbaiki kelemahan yang ada dan memupuk kelebihannya. Layaknya sebagai pakaian (seperti yang Allah sebutkan dalam QS. Albaqarah:187), maka suami/isteri harus mampu mem-percantik penampilan, artinya berusaha memupuk kebaikan yang ada (capacity building); dan menutup aurat artinya berupaya meminimalisir kelemahan/kekurangan yang ada.

Prinsip “hunna libasullakum wa antum libasullahun (QS. 2:187) antara suami dan isteri harus selalu dipegang, karena pada hakikatnya suami/isteri telah menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipandang secara terpisah. Kebaikan apapun yang ada pada suami merupakan kebaikan bagi isteri, begitu sebaliknya; dan kekurangan/kelemahan apapun yang ada pada suami merupakan kekurangan/kelemahan bagi isteri, begitu sebaliknya; sehingga muncul rasa tanggung jawab bersama untuk memupuk kebaikan yang ada dan memperbaiki kelemahan yang ada.

Sikap toleran juga menuntut adanya sikap mema’afkan, yang meliputi 3 (tiga) tingkatan, yaitu: (1) Al ‘Afwu yaitu mema’afkan orang jika memang diminta, (2) As-Shofhu yaitu mema’afkan orang lain walaupun tidak diminta, dan (3) Al-Maghfirah yaitu memintakan ampun pada Allah untuk orang lain. Dalam kehidupan rumah tangga, seringkali sikap ini belum menjadi kebiasaan yang melekat, sehingga kesalahan-kesalahan kecil dari pasangan suami/isteri kadangkala menjadi awal konflik yang berlarut-larut. Tentu saja “mema’afkan” bukan berarti “membiarkan” kesalahan terus terjadi, tetapi mema’afkan berarti berusaha untuk memberikan perbaikan dan peningkatan.

4. Komunikasi (Musyawarah)
Tersumbatnya saluran komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak dalam kehidupan rumah tangga akan menjadi awal kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Komunikasi sangat penting, di samping akan meningkatkan jalinan cinta kasih juga menghindari terjadinya kesalahfahaman.

Kesibukan masing-masing jangan sampai membuat komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak menjadi terputus. Banyak saat/kesempatan yang bisa dimanfaatkan, sehingga waktu pertemuan yang sedikit bisa memberikan kesan yang baik dan mendalam yaitu dengan cara memberikan perhatian (empati), kesediaan untuk mendengar, dan memberikan respon berupa jawaban atau alternatif solusi. Misalnya saat bersama setelah menunaikan shalat berjama’ah, saat bersama belajar, saat bersama makan malam, saat bersama liburan (rihlah), dan saat-saat lain dalam interaksi keseharian, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan sarana telekomunikasi berupa surat, telephone, email, dsb.

Alqur’an dengan indah menggambarkan bagaimana proses komunikasi itu berlangsung dalam keluarga Ibrahim As sebagaimana dikisahkan dalam QS.As-Shaaffaat:102, yaitu : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata; Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu, Ia menjawab; Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Ibrah yang dapat diambil dalam kisah tersebut adalah adanya komunikasi yang timbal balik antara orang tua-anak, Ibrahim mengutarakan dengan bahasa dialog yaitu meminta pendapat pada Ismail bukan menetapkan keputusan, adanya keyakinan kuat atas kekuasaan Allah, adanya sikap tunduk/patuh atas perintah Allah, dan adanya sikap pasrah dan tawakkal kepada Allah; sehingga perintah yang berat dan tidak logis tersebut dapat terlaksana dengan kehendak Allah yang menggantikan Ismail dengan seekor kibas yang sehat dan besar.

5. Sabar dan Syukur
Allah SWT mengingatkan kita dalam Alqur’an surat At Taghabun ayat 14: ”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu mema’afkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Peringatan Allah tersebut nyata dalam kehidupan rumah tangga di mana sikap dan tindak tanduk suami/istri dan anak-anak kadangkala menunjukkan sikap seperti seorang musuh, misalnya dalam bentuk menghalangi-halangi langkah dakwah walaupun tidak secara langsung, tuntutan uang belanja yang nilainya di luar kemampuan, menuntut perhatian dan waktu yang lebih, prasangka buruk terhadap suami/isteri, tidak merasa puas dengan pelayanan/nafkah yang diberikan isteri/suami, anak-anak yang aktif dan senang membuat keributan, permintaan anak yang berlebihan, pendidikan dan pergaulan anak, dan sebagainya. Jika hal-hal tersebut tidak dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan hati, bukan tidak mungkin akan membawa pada jurang kehancuran rumah tangga.

Dengan kesadaran awal bahwa isteri dan anak-anak dapat berpeluang menjadi musuh, maka sepatutnya kita berbekal diri dengan kesabaran. Merupakan bagian dari kesabaran adalah keridhaan kita menerima kelemahan/kekurangan pasangan suami/isteri yang memang di luar kesanggupannya. Penerimaan terhadap suami/isteri harus penuh sebagai satu “paket”, dia dengan segala hal yang melekat pada dirinya, adalah dia yang harus kita terima secara utuh, begitupun penerimaan kita kepada anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya. Ibaratnya kesabaran dalam kehidupan rumah tangga merupakan hal yang fundamental (asasi) untuk mencapai keberkahan, sebagaimana ungkapan bijak berikut:“Pernikahan adalah Fakultas Kesabaran dari Universitas Kehidupan”. Mereka yang lulus dari Fakultas Kesabaran akan meraih banyak keberkahan.

Syukur juga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan berumah tangga. Rasulullah mensinyalir bahwa banyak di antara penghuni neraka adalah kaum wanita, disebabkan mereka tidak bersyukur kepada suaminya. Mensyukuri rezeki yang diberikan Allah lewat jerih payah suami seberapapun besarnya dan bersyukur atas keadaan suami tanpa perlu membanding-bandingkan dengan suami orang lain, adalah modal mahal dalam meraih keberkahan; begitupun syukur terhadap keberadaan anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya, adalah modal masa depan yang harus dipersiapkan.
Dalam keluarga harus dihidupkan semangat “memberi” kebaikan, bukan semangat “menuntut” kebaikan, sehingga akan terjadi surplus kebaikan. Inilah wujud tambahnya kenikmatan dari Allah, sebagaimana firmannya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS. Ibrahim:7).

Mensyukuri kehadiran keturunan sebagai karunia Allah, harus diwujudkan dalam bentuk mendidik mereka dengan pendidikan Rabbani sehingga menjadi keturunan yang menyejukkan hati. Keturunan yang mampu mengemban misi risalah dien ini untuk masa mendatang, maka jangan pernah bosan untuk selalu memanjatkan do’a:
Ya Rabb kami karuniakanlah kami isteri dan keturunan yang sedap dipandang mata, dan jadikanlah kami pemimpin orang yang bertaqwa.
Ya Rabb kami karuniakanlah kami anak-anak yang sholeh.
Ya Rabb kami karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang baik.
Ya Rabb kami karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang Engkau Ridha-i.
Ya Rabb kami jadikanlah kami dan keturunan kami orang yang mendirikan shalat.
Do’a diatas adalah ungkapan harapan para Nabi dan Rasul tentang sifat-sifat (muwashshofat) ketuturunan (dzurriyaat) yang diinginkan, sebagaimana diabadikan Allah dalam Alqur’an (QS. Al-Furqon:74; QS. Ash-Shaafaat:100 ; QS.Al-Imran:38; QS. Maryam: 5-6; dan QS. Ibrahim:40).

Pada intinya keturunan yang diharapkan adalah keturunan yang sedap dipandang mata (Qurrota a’yun), yaitu keturunan yang memiliki sifat penciptaan jasad yang sempurna (thoyyiba), ruhaniyah yang baik (sholih), diridhai Allah karena misi risalah dien yang diperjuangkannya (wali radhi), dan senantiasa dekat dan bersama Allah (muqiimash-sholat).
Demikianlah hendaknya harapan kita terhadap anak, agar mereka memiliki muwashofaat tersebut, disamping upaya (ikhtiar) kita memilihkan guru/sekolah yang baik, lingkungan yang sehat, makanan yang halal dan baik (thoyyib), fasilitas yang memadai, keteladanan dalam keseharian, dsb; hendaknya kita selalu memanjatkan do’a tersebut.

6. Sikap yang santun dan bijak (Mu’asyarah bil Ma’ruf)
Merawat cinta kasih dalam keluarga ibaratnya seperti merawat tanaman, maka pernikahan dan cinta kasih harus juga dirawat agar tumbuh subur dan indah, diantaranya dengan mu’asyarah bil ma’ruf. Rasulullah saw menyatakan bahwa : “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik terhadap isteriku.” (HR.Thabrani & Tirmidzi)

Sikap yang santun dan bijak dari seluruh anggota keluarga dalam interaksi kehidupan berumah tangga akan menciptakan suasana yang nyaman dan indah. Suasana yang demikian sangat penting untuk perkembangan kejiwaan (maknawiyah) anak-anak dan pengkondisian suasana untuk betah tinggal di rumah.

Ungkapan yang menyatakan “Baiti Jannati” (Rumahku Syurgaku) bukan semata dapat diwujudkan dengan lengkapnya fasilitas dan luasnya rumah tinggal, akan tetapi lebih disebabkan oleh suasana interaktif antara suami-isteri dan orang tua-anak yang penuh santun dan bijaksana, sehingga tercipta kondisi yang penuh keakraban, kedamain, dan cinta kasih.

Sikap yang santun dan bijak merupakan cermin dari kondisi ruhiyah yang mapan. Ketika kondisi ruhiyah seseorang labil maka kecenderungannya ia akan bersikap emosional dan marah-marah, sebab syetan akan sangat mudah mempengaruhinya. Oleh karena itu Rasulullah saw mengingatkan secara berulang-ulang agar jangan marah (Laa tagdlob). Bila muncul amarah karena sebab-sebab pribadi, segeralah menahan diri dengan beristigfar dan mohon perlindungan Allah (ta’awudz billah), bila masih merasa marah hendaknya berwudlu dan mendirikan shalat. Namun bila muncul marah karena sebab orang lain, berusahalah tetap menahan diri dan berilah ma’af, karena Allah menyukai orang yang suka mema’afkan.

Ingatlah, bila karena sesuatu hal kita telanjur marah kepada anak/isteri/suami, segeralah minta ma’af dan berbuat baiklah sehingga kesan (atsar) buruk dari marah bisa hilang. Sesungguhnya dampak dari kemarahan sangat tidak baik bagi jiwa, baik orang yang marah maupun bagi orang yang dimarahi.

7. Kuatnya hubungan dengan Allah (Quwwatu shilah billah)
Hubungan yang kuat dengan Allah dapat menghasilkan keteguhan hati (kemapanan ruhiyah), sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. Ar-Ra’du:28. “Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang”.
Keberhasilan dalam meniti kehidupan rumah tangga sangat dipengaruhi oleh keteguhan hati/ketenangan jiwa, yang bergantung hanya kepada Allah saja (ta’alluq billah). Tanpa adanya kedekatan hubungan dengan Allah, mustahil seseorang dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan besar dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah saw sendiri selalu memanjatkan do’a agar mendapatkan keteguhan hati: “Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thoo’atika” (wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’ati-Mu).

Keteguhan hati dapat diwujudkan dengan pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah), sehingga ia merasakan kebersamaan Allah dalam segala aktifitasnya (ma’iyatullah) dan selalu merasa diawasi Allah dalam segenap tindakannya (muraqobatullah). Perasaan tersebut harus dilatih dan ditumbuhkan dalam lingkungan keluarga, melalui pembiasaan keluarga untuk melaksanakan ibadah nafilah secara bertahap dan dimutaba’ah bersama, seperti : tilawah, shalat tahajjud, shaum, infaq, do’a, ma’tsurat, dll. Pembiasaan dalam aktifitas tersebut dapat menjadi sarana menjalin keakraban dan persaudaraan (ukhuwah) seluruh anggota keluarga, dan yang penting dapat menjadi sarana mencapai taqwa dimana Allah swt menjamin orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ath-Thalaaq: 2-3.
Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi-nya jalan keluar (solusi) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi (keperluan) nya.”
Wujud indahnya keberkahan keluarga
Keberkahan dari Allah akan muncul dalam bentuk kebahagiaan hidup berumah tangga, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan di dunia, boleh jadi tidak selalu identik dengan kehidupan yang mewah dengan rumah dan perabotan yang serba lux. Hati yang selalu tenang (muthma’innah), fikiran dan perasaan yang selalu nyaman adalah bentuk kebahagiaan yang tidak bisa digantikan dengan materi/kemewahan. Kebahagiaan hati akan semakin lengkap jika memang bisa kita sempurnakan dengan 4 (empat) hal seperti dinyatakan oleh Rasulullah, yaitu : (1) Isteri yang sholihah, (2) Rumah yang luas, (3) Kendaraan yang nyaman, dan (4) Tetangga yang baik.

Kita bisa saja memanfaatkan fasilitas rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman tanpa harus memiliki, misalnya di saat-saat rihlah, safar, silaturahmi, atau menempati rumah dan kendaraan dinas. Paling tidak keterbatasan ekonomi yang ada tidak sampai mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, karena pemilik hakiki adalah Allah swt yang telah menyediakan syurga dengan segala kenikmatan yang tak terbatas bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, dan menjadikan segala apa yang ada di dunia ini sebagai cobaan.

Kebahagiaan yang lebih penting adalah kebahagiaan hidup di akhirat, dalam wujud dijauhkannya kita dari api neraka dan dimasukkannya kita dalam syurga. Itulah hakikat sukses hidup di dunia ini, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Imran : 185
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Selanjutnya alangkah indahnya ketika Allah kemudian memanggil dan memerintahkan kita bersama-sama isteri/suami dan anak-anak untuk masuk kedalam syurga; sebagaimana dikhabarkan Allah dengan firman-Nya:
Masuklah kamu ke dalam syurga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. (QS, Az-Zukhruf:70)
Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan (pertemukan) anak cucu mereka dengan mereka (di syurga), dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. Ath-Thuur:21).

Label:


selengkapnya...
posted by admin @ 22.14.00   0 comments
Hakikat Dosa
Minggu, 07 Maret 2010
بسم الله الرحمن الرحيم
(Jangan sampai permintaanmu kepada Allah SWT engkau jadikan alat untuk mendapatkan pemberian Allah, niscaya akan kurang pengertianmu (ma’rifatmu) kepada Allah. Namun hendaklah do’a permintaanmu semata-mata untuk menunjukkan kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap kemuliaan Tuhanmu.” (Imam Ibnu Atha’illah)
Allah menyuruh kita berdo’a, bukan berarti Allah tidak tahu kebutuhan kita. Allah jauh lebih tahu kebutuhan kita dibanding kita sendiri. Hakikatnya, permintaan yang kita panjatkan terlalu sedikit dibanding dengan karunia yang telah Allah berikan kepada kita. Walau seluruh manusia dan jin menolak berdo’a kepadaNya, kemuliaan Allah tidak akan berkurang. Sebaliknya, jika seluruh manusia dan jin memohon kepada Allah, kemuliaanNya pun tidak akan beruba. Lalu mengapa Allah dan rasulnya menyuruh kita berdo’a ?
Ada empat alasan mengapa kita harus berdo’a kepadaNya.
  1. Memperjelas kedudukan kita sebagai hamba dan Allah sebagai Al Khalik. Memahami hakikat diri sebagai hamba, akan menjadikan kita rendah hati. Karena itu seorang pendo’a yang baik akan terhindar dari sikap sombong, malas dan bergantung selain Allah.
  2. Do’a sebagai sarana dzikir. Allah menyuruh kita berdo’a agar kita ingat kepadaNya. Dengan mengingat Allah, hati kita akan tenang. Dan ketenangan adalah kunci kebahagiaan. Allah berfirman dalam surat Ar Ra’d[13]:28 “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
  3. Do’a adalah target. Do’a hakikatnya adalah tujuan, keinginan atau target yang ingin kita raih. Saat kita mengucapkan do’asapu jagat misalnya, maka itulah target kita selamat dunia akhirat. Tentu target tidak akan pernah tercapai bila kita tidak mengusahakannya. Do’a adalah pupuk, sedangkan ikhtiar adalah sebagai bibitnya. Tidakm mungkin kita akan panen bila kita tidak menebar benih. Jadi Do’a terbaik adalah do’a yang disertai dengan ikhtiar maksimal. Itulah iman dan amal.
  4. Do’a adalah penyemangat. Pada saat seorang hamba berdo’a, maka yakinlah bahwa hamba tersebut memilki harapan, dan harapan akan melahirkan semangat. Saudaraku, semangat itu mahal harganya, sebab semangat akan menentukan sukses tidaknya seseorang. Pertolongan Allah hanya akan mendatangi orang yang bersemangat, sungguh-sungguh. Bukanlah saat kita bersungguh-sungguh kepada Allah, maka Allah akan lebih bersungguh-sungguh lagi kepada kita. Do’a adalah senjata orang beriman. Do’a adalah pengubah takdir. Do’a pun menjadi kunci terbukanya pertolongan Allah. Karena itu, yang terpenting dari do’a bukan urusan terkabul tidaknya do’a kita. Yang terpenting dari do’a adalah berubah tidaknya diri kita karena berdo’a.

Do’a terbaik
“Sebaik-baik do’a yang engkau harus panjatkan kepada Allah adalah apa-apa yang Allah perintahkan kepadanu.”(Ibnu Athaillah)
Nikmat Allah yang karuniakan kepada kita sebenanrnya jauh lebih besar dari pada nikmat yang kita minta. Saat kita meminta rezeki, pada saat bersamaan rezeki yang Allah curahkan jau lebih melimpah. Saat kita meminta kebaikan, pada saat bersamaan kebaikan yang Allah berikan jauh lebih banyak dari yang kita duga. Hanya saja keterbatasan ilmu dan ketertutupan mata hati, membuat kita jarang menyadari besarnya karunia tersebut.

Do’a yang kita panjatkan kepada Allah terbagi menjadi dua tingkat;
  • Tingkat pertama adalah do’a meminta dunia. Inilah do’a dengan tingkatan terendah. Dalam do’a ini tidak ada yang kita minta selain dunia, termasuk minta harta melimpah, minta kedudukan, minta jodoh dan sebaginya. Tidak salah kita berdo’a seperti ini, bahkan dianjurkan dan bernilai pahala.
  • Tingkat kedua adalah do’a minta pahala. Pada tingkata do’a seperti ini ita minta agar Allah SWT membalas semua kebaikan kita dengan balasan berlipat. Puncaknya kita meminta dimsukkan dalam syurga dan dijauhkan dari neraka. Do’a tingkatan kedua ini bernuansa akhirat, dan nilainya lebih tinggi dari sekedar meminta dunia.
Saat kita meminta ridla Allah, maka saat itulah kita meminta hal yang paling berharga dalam hidup. Sebab tidak ada gunanya harta, pangkat, jabatan, ketampanan, atau apapun bila Allah tidak ridla kepada kita. Bila Allah sudah ridla maka semuanya akan menjadi mudah. Dunia insyaallah akan kita dapatkan dan akhiratpun akan kita rengkuh. Karena itu dari pada minta kecukupan, lebih baik kita minta tawakal. Hal ini bukan berrarti kita tidak boleh berdo’a, silakan berdo’a apapun, selama tidak memohon kemaksiatan.


Label:


selengkapnya...
posted by admin @ 12.05.00   0 comments
Keajaiban ikhlas
Jumat, 05 Maret 2010
بسم الله الرحمن الرحيم
Selama ada keyakinan hidup akan selalu berjalan semau kita. Takkan ada yang pernah tahu masalah apa yang akan timbul tapi kita bisa tahu bagaimana akhirnya dikarenakan hidup ada ditangan kita. Allah selalu ada dibalik prasangka hambanya jadi bila ingin semua membaik percaya Allah akan selalu membantu kita. Belajarlah untuk percaya hatimu(jantung) dan Allah. Jangan selalu menggunakan pikiran karena ia hanya akan menekan kita dengan nafsu belaka.
Allah akan selalu menguji hambanya karena ia ingin menguji seberapa dekat hambanya dengan Dia. Jaqdi beruntunglah orang orang yang selalu diberi cobaan dan hati yang luas yang selalu bersyukur dan lapang dalam menyelesaikan masalah.
Hidup kita tak jauh dari masalah. Hidup bagaikan kita sedang menyetir mobil. Kita tidak tahu kondisi diluar seperti apa, kita tak pernah tahu apa yang akan kejadian diluar tetapi semua tergantung kita. Setir ada ditangan kita. Mau kita gas, jalan berlahan atau kita rem. Semua tergantung kita jadi sebenarnya hidup kita adalah pilihan. Bukan tergantung dengan keadaan yang diluar.
Janganlah pernah menyalahkan lingkungan karena semuanya sebenarnya kesalah ada pada diri kita dan juga jangan pernah kita sepenuhnya mendengar kata kata orang yang menyangkut hidup kita dan bisa mengganggu hidup kita karena dia gakkan mungkin mau membantu kita disaat kita sedang dalam kesulitan dan dia juga gakkan bertanggung jawab dengan hidup kita. Kitalah yang menentukan, kitalah yang bertanggung jawab dan kita juga lah yang akan menentukan dan menolaong hidup kita bukan orang lain.
Ingatlah impian mu dan impianmu bukanlah sekedar keiinginan. Jangan sampai impianmu mati. Tahukah kamu? Orang tua bagaikan sebuah lilin yang selalu menerangin dan menghangati dan tanpa sadar dan tanpa kita ketahui dia membakar dirinya sendiri. Kita tak pernah tahu kapan lilin itu akan mati karena semua tergantung waktu. Maka berlombalah dengan waktu agar kita tak melihat lilin itu mati disaat kita sedang berjuang tetapi disaat kita skuses dan dapat membahagiakannya dengan mua keinginannya.
Ingatlah semakin kamu menunda pekerjaan semakin kamu menunda kesuksesanmu dan itu akan sangat menyakitkanmu. Teruslah percaya pada dirimu sendiri. Lakukanlah apapun itu selama hatimu massih ikhlas dan yakin. Pernah kah kau melihat pohon? Semakin ia tinggi semakin deras angin yang menerpa tapi pohn itu semakin kelihatan kokoh, maka jadikanlah dirimu bagaikan pohon tersebut semakin banyak maslah dirimu kamu semakin kuat dan kokoh dengan masalah tersebut.
Jangan pernah kau lupakan kata kata dan nasehat yang pernah engkau dapat karena itu akan menjadi bekal dalam tiap masalahmu. Teruslah menjadi pendengar yang baik. Apa salahnya sih mendengar? Karena bila kita ihlas mendengar kita akan mendapatkan banyak pelajaran disana.
Janganlah pernah melihat orang lain seberapa ia bisa dan seberapa ia tidak bisa karena kita beda dengan orang lain, kita mempunyai kemampuan diri sendiri. Kemampuan kita buak kemampuan orang lain. Kemampuan kita bisa melebihi orang lain. Ingatlah itu.
Jangan lah pernah mengeluh dalam melakukan segala hal. Karena orangtua kita tidak pernah megeluh dalam membantumu sukses. Jangan pernah malas karena orangtuamu sedang membanting tulang. Jangan pernag menangis karena mamamu selalu tersenyum dekatmu. Jangan pernah menghitung karena orangtuamu tak pernah menghitung apa yang telah ia beri padamu.

Label:


selengkapnya...
posted by admin @ 21.03.00   0 comments
Akhlak Anak Terhadap Orang Tua Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani
Senin, 01 Maret 2010
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam menghadapi laju perkembangan zaman, pembaharuan dalam pemahaman agama perlu terus dilakukan sebagai upaya menggali hakikat kebenaran. Selain itu, umat Islam juga perlu dan dituntut untuk menguasai ragam keterampilan dan keahlian. Syeikh Nawawi memahami bahwa, “perbedaan umat adalah rahmat” dalam konterks keragaman kemampuan dan persaingan untuk kemajuan Umat Islam.
Meskipun tradisionalisme mewarnai pemikiran Syeikh Nawawi, namun dari sisi lain ia tercatat sebagai pembaharu tradisi pemikiran keagamaan di Indonesia. Dalam pengamatan Abdurrahman Wahid, pada abad 19 telah terjadi perubahan-perubahan yang cukup penting dalam tradisi keilmuan Islam di Indonesia. Ini dimulai dengan pengiriman para pelajar Nusantara ke Timur Tengah terutama ke Mekkah. Sebagian dari mereka kemudian menjadi ulama besar seperti Syeikh Nawawi, Syeikh Mahfuz Termas, Kia Kholil Madura, Kiai Hasyim Asy-ari Jombang dan sejumlah ulama lain hingga tidak putus-putusnya sampai hari ini, mereka membawa orientasi baru pada manifestasi keilmuan di Indonesia, terutama dilingkungan pesantren. Sebelum munculnya para kiai tersebut, wacana-wacana keagamaan khususnya fikih adalah wacana-wacana sinkretisme kejawen.
Di lihat dari konteks sejarah kehidupannya, Syeikh Nawawi hidup sezaman dengan tokoh pembaharu terkemuka Jamaluddin al-Afgani (1254 -1314 H/1839-1897 M) dan murid utamanya Muhammad Abduh (1266-1323 H/1849-1905 M), tetapi sulit bagi kita untuk dapat menemukan pikiran-pikiran baru dari Syeikh Nawawi. Satu hal mungkin dapat dijadikan alasan mengapa pikiran modern Syeikh Nawawi kurang menonjol dibandingkan dua tokoh modernis ini adalah karena negeri Hijaz, tempat Syeikh Nawawi bermukim, memang sangat berbeda dengan Mesir, tempat tinggal Jamaluddin dan Muhammad Abduh. Dibanding dengan negeri-negeri Islam yang lain, Hijaz adalah satu-satunya negeri Muslim yang tidak tersentuh oleh imperialisme Barat. Penjajahan Bangsa Barat ke negeri-negeri Muslim pada abad ke 19, meskipun pada satu sisi merupakan penindasan, juga dapat memperkenalkan peradaban rasional dan terknologi. Oleh karena itu, membandingkan Syeikh Nawawi dengan kedua tokoh tersebut boleh jadi memang tidak proporsional. Syeikh Nawawi mungkin dapat di pandang sebagai pembaharu atau paling tidak telah melakukan perubahan atas tradisi yang berkembang pada masanya termasuk tradisi yang ada di Indonesia tercinta ini.
Pikiran-pikiran Syeikh Nawawi juga banyak di pengaruhi paradigma sufisme. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, Sufisme sering ditampilkan dalam aktifitas-aktifitas ritual personal yang intens dalam rangka menyucikan diri guna mendekatkan diri pada tuhan. Aktiftas-aktifitas ini dipandang lebih utama daripada aktifitas lain yang bersifat sosial.
Di dalam bidang fiqih, seperti halnya pendapat Syafi’i sebagai imam mazhab yang dianutnya, menurut Syeikh Nawawi, sumber rujukan dan dasar pandangan dalam hukum Islam adalah al-Qur’an, al- Hadits, al-Ijma’ dan al-kiyas. Perihal ijtihad dan taklid, ia berpendapat bahwa, yang termasuk mujtahid mutlak adalah imam mazhab empat.
Dari penjelasan di atas sesungguhnya Syeikh Nawawi menguasai berbagai bidang agama yang tidak diragukan lagi terutama dalam bidang fikih, tauhid dan akhlak. Dari ketiga bidang tersebut penulis hanya akan membahas masalah akhlak, khususnya akhlak anak terhadap orang tua.
Agama Islam mengajarkan dan mewajibkan kita sebagai anak untuk berbakti dan taat kepada ibu-bapak. Taat dan berbakti kepada kedua orang tua adalah sikap dan perbuatan yang terpuji, cara berbakti dan sopan santun kepada orang tua ialah melaksanakan segala perintahnya dengan melakukan hal-hal sebagaimana Syeikh Nawawi sebutkan dalam kitab Maroqil ‘Ubudiyah bahwa akhlak anak terhadap orang tua adalah sebagai berikut:
Mematuhi perintahnya selama perintah itu bukan dalam mendurhakai Allah.
Tidak berjalan didepan keduanya, tetapi disamping atau dibelakangnya. Jika ia berjalan didepannya karena sesuatu hal, maka tidaklah mengapa ketika itu.
Menjawab panggilan mereka dengan jawaban yang lunak.
Berusahalah keras untuk mencari keridhaan kedua orang tua dengan perkataan dan perbuatan.
Bersikaplah rendah hati dan lemah lembut kepada kedua orang tua seperti melayani mereka, menyuapi makan dengannya bila keduanya tidak mampu dan mengutamakan keduanya diatas diri dan anak-anaknya.
Janganlah bermuka cemberut kepada keduanya.
Janganlah bepergian, kecuali dengan izin keduanya.
Selain dalam kitab Marokil ‘Ubudiyah Syeikh Nawawi juga menerangkan dalam kitab Tafsir al-Munir mengenai akhlak anak terhadap orang tua yang terdapat dalam surat al-isro’, ayat 23-25 bahwasannya Allah menegaskan agar kita sebagai manusia untuk menyembah hanya kepada-Nya saja. Karena manusia diciptakan Allah sebagai hamba sehingga diperintahkan Allah untuk selalu beribadah kepadanya dimanapun dan kapanpun berada.

Label:


selengkapnya...
posted by admin @ 21.48.00   1 comments
Islam adalah "rumah kedamaian" bagi orang-orang bermasalah
بسم الله الرحمن الرحيم
Ketika harta, wanita dan popularitas sudah dilampaui, manusia-manusia Barat (mordern) punya fantasi dan impian baru agar hidup damai di planet atau pulau-pulau terpencil, yang dianggapnya sebagai solusi yang bisa menyelesaikan persoalan hidupnya yang serba sumpek dan merisaukan itu.
Hal itu jelas tergambar pada ribuan karya dan kreasi mereka dalam bentuk sastra, musik, film maupun rumus-rumus matematika, yang seakanmemberi jawaban pencerahan atas persoalan mereka, di mana dunia industri dan iptek yang semula dianggap bisa mempercantik dunia dan memperindah kehidupan, ternyata belum bisa memberi solusi yang memuaskan batin mereka. Lantas apa solusinya, di manakah pencerahan itu dapat ditemukan? Sungguh tak ada jawaban yang memuaskan kita sampai kapanpun; tak ada planet atau pulau terpencil yang dapat menentramkan kita; tak ada iptek secanggih apapun yang dapat membahagiakan kita; tak ada pintu-pintu terbuka untuk kita semua selain pintu introspeksi-diri (tobat) dan kembali ke jalan Tuhan. Karena tanpa ada kemauan untuk mendahulukan Tuhan (iman), hidup manusia hanya akan menjadi bulan-bulanan tak keruan, yang membuatnya terperosok dari satu jebakan ke jebakan lain; dari satu ketergantungan ke ketergantungan lain; dalam lingkaran mata-rantai pilihan demi pilihan yang tak pernah menemukan prioritas dan prosentasinya secara benar. Tetapi bila kita mau berpikir dengan "akal iman", melihat dengan "mata iman", dan mendengar dengan "telinga iman", maka kita akan mengukur dan membaca hidup ini secara jujur dan realistis, bahwa memang bangsa kita ini sedang bermasalah: bahwa pilihan menjadi penguasa diktator di masalalu telah membawa banyak masalah; bahwa menganut ekonomi kapitalisme (dengan riba yang tak terkendali) telah membawa banyak masalah; bahwa pilihan menjadi masyarakat liberal-modern telah membawa masalah; bahwa membangun dunia industri dengan segala ipteknya (yang tak terkontrol) telah membawa masalah. Lantas mau ke mana kita melarikan diri dari segala masalah itu, ketika sumbernya justru berasal dari diri kita sendiri, dari pilihan-pilhan kita sendiri, dari kesombongan dan keserakahn kita sendiri, dari dendam dan kebencian kita sendiri? Nah, di sinilah Islam menyampaikan puncak jawaban atas segala persoalan hidup manusia, bahwa Islam bukan hanya mengajarkan kita agar terhindar dari dosa dan kesalahan, tapi sekaligus menuntun dan mengarahkan kita agar bertobat dan bangkit dari dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat... mohon maaf dan selamat berpuasa, semoga kita dapat meraih ketakwaan....

Label:


selengkapnya...
posted by admin @ 21.42.00   0 comments
Assyahadah
www.voa-islam.com
Previous Post
Archives
Links
Sudahkah anda Shalat
Powered by

Telanjang Foto Download Bugil Gambar Download Gambar Foto Bugil Telanjang

© Khasanah Dunia Islam Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Car Pictures