Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.(HR.Bukhori-Muslim)

Photobucket
sekarang
Share |
Kami
Pengunjung
Links
Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket
Buku Tamu
Hukum Shalat Sendirian Di Belakang Shaf
Jumat, 04 Maret 2011
بسم الله الرحمن الرحيم
oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Pertanyaan: Telah terjadi perdebatan di antara jamaah masjid, bahwa apabila seseorang terlambat masuk masjid. Ternyata shalat telah dimulai dan shaf telah penuh serta tidak ada tempat shaf untuknya. Bolehkan ia menarik seseorang dari shaf yang telah penuh itu supaya ia bisa shalat di shaf? Apakah ia shalat di belakang shaf sendirian? Atau apa yang harus ia lakukan?

Jawaban: Masalah ini ada tiga cara, apabila seseorang datang ke masjid dan shaf telah penuh:
- Bisa jadi ia shalat sendirian di belakang shaf.
- Bisa jadi ia menarik seseorang dari shaf, lalu ia shalat bersamanya.
- Dan bisa jadi ia maju, lalu shalat di sebelah kanan imam.
- Tiga sifat ini apabila ia telah masuk di dalam shalat. Dan bisa jadi meninggalkan shalat bersama jamaah ini. Maka sikap yang sebaiknya dipilih dari empat perkara ini?
Kami katakan: yang dipilih dari empat perkara ini adalah: ia bershaf (berbaris) sendirian di belakang shaf dan shalat bersama imam (sebagai makmum). Penjelasannya adalah bahwa yang wajib adalah shalat berjamaah, dan shalat di dalam shaf ini, adalah dua kewajiban, apabila terhalang salah satunya –yaitu berdiri bersama shaf- maka masih tersisa satu kewajiban, yaitu shalat berjamaah. Ketika itu kita katakan: shalatlah bersama jamaah di belakang shaf supaya engkau mendapat keutamaan shalat berjamaah. Dan berdiri di dalam shaf dalam kondisi ini tidak wajib atasnya karena tidak bisa melakukan dan Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (QS. at- aghabun  Dan menguatkan pendapat ini bahwa perempuan berdiri di belakang shaf sendirian apabila tidak ada perempuan yang lain, karena tidak ada tempat baginya secara syara' di dalam shaf laki-laki. Ketika tidak ada tempatnya secara sya'i di dalam shaf laki-laki, maka ia shalat sendirian.  Laki-laki yang datang ke masjid ini, sedangkan shaf telah penuh dan tidak ada lagi tempat baginya di dalam shaf, gugurlah saat itu kewajiban bershaf darinya dan ia tetap wajib shalat berjamaah, hendaklah ia shalat di belakang shaf.
Adapun menarik seseorang agar shalat bersamanya, ini tidak pantas karena berakibat pada tiga perkara:
Pertama: membuka jarak di dalam shaf, ini menyalahi perintah Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam dalam merapatkan dan menutup celah di antara shaf.
Kedua: memindah yang ditarik dari tempat yang utama ke tempat yang tidak utama, dan ia merupakan salah satu tindakan kriminal kepadanya.
Ketiga: mengganggu kekhusyu’an, orang yang shalat tersebut, apabila ditarik tentu di hatinya ada gerakan, ini juga termasuk tindakan yang tidak baik kepadanya.
Cara ketiga: ia berdiri bersama imam: maka tidak sepantasnya baginya, karena imam harus berbeda tempatnya dengan makmum. Sebagaimana ia berbeda dari mereka dengan lebih dulu dengan bacaan dan perbuatan. Ia bertakbir sebelum mereka, sujud sebelum mereka, ia harus berbeda tempat dari mereka.
Dan inilah petunjuk Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam sesungguhnya imam berdiri di depan para makmum. Ini adalah kondisi yang nampak karena ia berbeda dari mereka, sendirian di tempatnya. Apabila sebagian makmum berdiri bersamanya, hilanglah keistimewaannya, karena memang seorang imam harus berada sendirian di depan makmum.
Adapun yang keempat, yaitu meninggalkan shalat: maka ini tidak ada jalannya, karena shalat jamaah adalah wajib dan bershaf wajib. Bila tidak bisa salah satunya niscaya tidak gugur yang lain karena yang pertama.,

Label:


selengkapnya...
posted by admin @ 16.23.00   0 comments
Introspeksi Terhadap Ibadah Shalat Kita
Jumat, 17 Desember 2010
Coba kita ingat kembali pelaksanaan shalat yang selama ini telah kita lakukan. Manakah yang lebih kita perhatikan ketika kita melakukan rukuk dan sujud? Bacaan atau gerakan? Banyak sekali orang mengira bahwa dia memperhatikan kedua-duanya, tetapi coba kita ingat-ingat kembali : Pernahkah kita memperhatikan apakah gerakan rukuk dan sujud kita telah sempurna? Apakah punggung kita telah lurus sehingga jika diletakkan gelas berisi air tidak tumpah? Apakah kita telah mengamalkan gerakan rukuk dan sujud sebagaimana dijelaskan dalam hadits di bawah ini?
Abu Humaid As-Sa'idi r.a berkata, "Aku mengingat shalat Rasulullah Saw lebih baik daripada siapa pun diantara kalian. Aku melihat Nabi Saw mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya dan mengucapkan takbir, dan ketika rukuk Nabi Saw meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas dua lututnya dan punggungnya membungkuk lurus, kemudian setelah bangkit dari rukuk Nabi Saw berdiri tegak hingga semua tulang punggungnya berada dalam posisi normal. Ketika sujud, Nabi Saw meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas tanah dan menjauhkan lengan bagian bawahnya dari tanah dan tubuhnya, dan jari jemari (kakinya) menghadap ke arah kiblat. Ketika duduk pada rakaat kedua, Nabi Saw duduk diatas kaki kirinya dan menyangga kakinya sebelah kanan; dan pada rakaat terakhir Nabi Saw menekan kakinya sebelah kiri kedepan dan menopang kakinya sebelah kanan dan duduk diatas pinggulnya". (1:791 - Shahih Al Bukhari).

Label:


selengkapnya...
posted by admin @ 15.54.00   0 comments
Prosedur Sertifikasi Halal
Rabu, 22 September 2010
بسم الله الرحمن الرحيم
Apa Itu Sertifikat Halal?

Yang dimaksud Sertifikat Halal adalah suatu fatwa tertulis dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari'at Islam. Sertifikat Halal ini merupakan syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman LABEL HALAL pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang.

Pengadaan Sertifikasi Halal pada produk pangan, obat-obat, kosmetika dan produk lainnya sebenarnya bertujuan untuk memberikan kepastian status kehalalan suatu produk, sehingga dapat menentramkan batin konsumen muslim. Namun ketidaktahuan seringkali membuat minimnya perusahaan memiliki kesadaran untuk mendaftarkan diri guna memperoleh sertifikat halal.

Jaminan Halal dari Produsen

Masa berlaku Sertifikat Halal adalah 2 tahun. Hal tersebut untuk menjaga konsistensi produksi produsen selama berlakunya sertifikat. Sedangkan untuk daging yang diekspor Surat Keterangan Halal diberikan untuk setiap pengapalan.

Untuk memperoleh sertifikat halal LPPOM MUI memberikan ketentuan bagi perusahaan sebagai berikut:

  1. Sebelum produsen mengajukan sertifikat halal terlebih dahulu harus mempersiapkan Sistem Jaminan Halal. Penjelasan rinci tentang Sistem Jaminan Halal dapat merujuk kepada Buku Panduan Penyusunan Sistem Jaminan Halal yang dikeluarkan oleh LP POM MUI
  2. Berkewajiban mengangkat secara resmi seorang atau tim Auditor Halal Internal (AHI) yang bertanggungjawab dalam menjamin pelaksanaan produksi halal.
  3. Berkewajiban menandatangani kesediaan untuk diinspeksi secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya oleh LPPOM MUI.
  4. Membuat laporan berkala setiap 6 bulan tentang pelaksanaan Sistem Jaminan Halal.
Prosedur Sertifikasi Halal

Pertama-tama produsen yang menginginkan sertifikat halal mendaftarkan ke sekretariat LPPOM MUI dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Bagi Industri Pengolahan:
  1. Produsen harus mendaftarkan seluruh produk yang diproduksi di lokasi yang sama dan/atau yang memiliki merek/brand yang sama.
  2. Produsen harus mendaftarkan seluruh lokasi produksi termasuk maklon dan pabrik pengemasan.
  3. Ketentuan untuk tempat maklon harus dilakukan di perusahaan yang sudah mempunyai produk bersertifikat halal atau yang bersedia disertifikasi halal.
2. Bagi Restoran dan Katering:
  1. Restoran dan katering harus mendaftarkan seluruh menu yang dijual termasuk produk-produk titipan, kue ulang tahun serta menu musiman.
  2. Restoran dan katering harus mendaftarkan seluruh gerai, dapur serta gudang.
3. Bagi Rumah Potong Hewan:
  1. Produsen harus mendaftarkan seluruh tempat penyembelihan yang berada dalam satu perusahaan yang sama
Setelah penggolongan berdasarkan kategori usaha, beberapa hal yang harus dilakukan perusahaan pemohon:
  1. Setiap produsen yang mengajukan permohonan Sertifikat Halal bagi produknya, harus mengisi Borang yang telah disediakan. Borang tersebut berisi informasi tentang data perusahaan, jenis dan nama produk serta bahan-bahan yang digunakan
  2. Borang yang sudah diisi beserta dokumen pendukungnya dikembalikan ke sekretariat LP POM MUI untuk diperiksa kelengkapannya, dan bila belum memadai perusahaan harus melengkapi sesuai dengan ketentuan.
  3. LPPOM MUI akan memberitahukan perusahaan mengenai jadwal audit. Tim Auditor LPPOM MUI akan melakukan pemeriksaan/audit ke lokasi produsen dan pada saat audit, perusahaan harus dalam keadaan memproduksi produk yang disertifikasi.
  4. Hasil pemeriksaan/audit dan hasil laboratorium (bila diperlukan) dievaluasi dalam Rapat Auditor LPPOM MUI. Hasil audit yang belum memenuhi persyaratan diberitahukan kepada perusahaan melalui audit memorandum. Jika telah memenuhi persyaratan, auditor akan membuat laporan hasil audit guna diajukan pada Sidang Komisi Fatwa MUI untuk diputuskan status kehalalannya.
  5. Laporan hasil audit disampaikan oleh Pengurus LPPOM MUI dalam Sidang Komisi Fatwa Mui pada waktu yang telah ditentukan.
  6. Sidang Komisi Fatwa MUI dapat menolak laporan hasil audit jika dianggap belum memenuhi semua persyaratan yang telah ditentukan, dan hasilnya akan disampaikan kepada produsen pemohon sertifikasi halal.
  7. Sertifikat Halal dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia setelah ditetapkan status kehalalannya oleh Komisi Fatwa MUI.
  8. Sertifikat Halal berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal penetapan fatwa.
  9. Tiga bulan sebelum masa berlaku Sertifikat Halal berakhir, produsen harus mengajukan perpanjangan sertifikat halal sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan LPPOM MUI.
Kemudian dilakukanlah tata cara pemeriksaan (Audit) mulai dari manajemen, bahan-bahan baku, dll. Pemeriksaan (audit) produk halal mencakup:
  1. Manajemen produsen dalam menjamin kehalalan produk (Sistem Jaminan Halal).
  2. Pemeriksaan dokumen-dokumen spesifikasi yang menjelaskan asal-usul bahan, komposisi dan proses pembuatannya dan/atau sertifikat halal pendukungnya, dokumen pengadaan dan penyimpanan bahan, formula produksi serta dokumen pelaksanaan produksi halal secara keseluruhan.
  3. Observasi lapangan yang mencakup proses produksi secara keseluruhan mulai dari penerimaan bahan, produksi, pengemasan dan penggudangan serta penyajian untuk restoran/catering/outlet.
  4. Keabsahan dokumen dan kesesuaian secara fisik untuk setiap bahan harus terpenuhi.
  5. Pengambilan contoh dilakukan untuk bahan yang dinilai perlu.

Sistem Pengawasan Sertifikat Halal:

  1. Perusahaan wajib mengimplementasikan Sistem Jaminan Halal sepanjang berlakunya Sertifikat Halal
  2. Perusahaan berkewajiban menyerahkan laporan audit internal setiap 6 (enam) bulan sekali setelah terbitnya Sertifikat Halal.
  3. Perubahan bahan, proses produksi dan lainnya perusahaan wajib melaporkan dan mendapat izin dari LPPOM MUI.

Prosedur Perpanjangan Sertifikat Halal:

  1. Produsen harus mendaftar kembali dan mengisi borang yang disediakan.
  2. Pengisian borang disesuaikan dengan perkembangan terakhir produk.
  3. Produsen berkewajiban melengkapi kembali daftar bahan baku, matrik produk versus bahan serta spesifikasi, sertifikat halal dan bagan alir proses terbaru.
  4. Prosedur pemeriksaan dilakukan seperti pada pendaftaran produk baru.
  5. Perusahaan harus sudah mempunyai manual Sistem Jaminan Halal sesuai dengan ketentuan prosedur sertifikasi halal di atas.

Mengingat pentingnya jaminan halal tersebut bagi konsumen maka tiap perusahaan makanan, obat dan kosmetik dianjurkan untuk memperoleh serifikat halal. Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubung:

Sekretariat LPPOM MUI
Gedung Majelis Ulama Indonesia
Jl. Proklamasi No. 51 Menteng Jakarta Pusat
Phone No. + 62 21 3918890
Fax. No. +62 21 3918915

Atau

Kampus IPB Barangsiang
Jl. Raya Pajajaran Bogor 16144
Phone No. +62 251 8358748
Fax. No. +62 251 8358747
Email : sekretariatlppom@halalmui.org

Pusat Pelatihan & Informasi Halal
Komplek Tanah Baru Indah
Jl. Pangeran Assoghiri Kav. 93 Blok C 1-2 Bogor Utara
Phone No. +62 251 8662931 / +62 251 8656279
Fax. No. +62 251 8656250
Email : info@halalmui.org

selengkapnya...
posted by admin @ 21.41.00   0 comments
Assyahadah
www.voa-islam.com
Previous Post
Archives
Links
Sudahkah anda Shalat
Powered by

Telanjang Foto Download Bugil Gambar Download Gambar Foto Bugil Telanjang

© Khasanah Dunia Islam Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Car Pictures